Selasa, Agustus 04, 2015
PERGURUAN WALI PITU INDONESIA
PENYEBARAN TENAGA DALAM DI INDONESIA
Pada awalnya tenaga dalam hanya dipelajari secara terbatas
di berbagai perguruan silat. Para pendekar silat yang tercatat
sebagai guru bagi para pendiri perguruan silat tenaga dalam
generasi berikutnya antara lain:
1. Abah Khoir, yang mendirikan silat Cimande, Cianjur
2. Bang Madi, dari Batavia
3. Bang Kari, dari Batavia
4. Bang Ma'ruf, dari Batavia
5. Haji Qosim, dikenal juga dengan nama Syahbandar atau Subandari, dari kerajaan Pagar
Ruyung
6. Haji Odo, seorang kiai dari pesantren di Cikampek
Perlu menjadi catatan bahwa pada masa ini belum dikenal teknik pukulan tenaga dalam atau
pukulan jarak jauh. Silat yang diajarkan oleh Madi, Kari dan Syahbandar lebih bersifat fisik. Baik
Madi, Kari dan Syahbandar dikenal sebagai pendekar silat (fisik) pada masanya. H. Qosim yang
kemudian dikenal sebagai Syahbandar atau Mama’ Subadar karena tinggal dan disegani
masyarakat desa Subadar di wilayah Cianjur. Sedangkan Madi dikenal sebagai penjual dan
penjinak kuda binal yang diimpor asal Eropa. Dalam dunia persilatan Madi dikenal pakar dalam
mematah siku lawan dengan jurus gilesnya, sedangkan Kari dikenal sebagai pendekar asli
Benteng Tangerang yang juga menguasai jurus-jurus kung fu dan ahli dalam teknik jatuhan.
Pada era Syahbandar, Kari dan Madi banyak pendekar dari berbagai aliran berkumpul di Batavia.
Batavia seakan menjadi pusat barter ilmu bela diri dari berbagai aliran, mulai dari silat Padang,
silat Betawi kombinasi kung fu ala Bang Kari, juga aliran Cimande yang dibawa oleh Khoir.
Perkembangan Selanjutnya Pada tahun-tahun berikutnya, perkembangan perguruan tenaga dalam
layaknya MLM (Multi Level Marketing). Seseorang yang belajar pada suatu perguruan memilih
untuk mendirikan perguruan baru sesuai selera pribadinya. Ini adalah gejala alamiah yang tidak
perlu dimasalahkan, karena setiap guru atau orang yang merasa mampu mengajarkan ilmu pada
orang lain itu belum tentu sepaham dengan tradisi yang ada pada perguruan yang pernah
diikutinya. Pertimbangan merubah nama perguruan itu dilatarbelakangi oleh hal-hal yang amat
kompleks, mulai adanya ketidaksepahaman pola pikir antara orang zaman dulu yang mistis dan
kalangan modernis yang mempertimbangkan sisi kemurnian aqidah dan ilmiah, disamping
pertimbangan dari sisi komersial. Yang pasti, misi orang mempelajari tenaga dalam pada
masyarakat sekarang sudah mulai berubah dari yang semula berorientasi pada ilmu kesaktian
menuju pada gerak fisik (olah raga) karena orang sekarang menganggap lawan berat yang
sesungguhnya adalah penyakit. Karena itu, promosi perguruan lebih mengeksploitasi kemampuan
mengobati diri sendiri dan orang lain. Aliran perguruan tenaga dalam yang mengeksploitasi
kesaktian kini lebih diminati masyarakat tradisional. Dan menurut pengamatan beberapa pihak,
perguruan ini justru sering “bermasalah” disebabkan pola pembinaan yang menggiring
penganutnya pada sikap “kejawaraan” melalui doktrin-doktrin yang kurang bersahabat pada
aliran lain dari sesama perguruan tenaga dalam maupun bela diri dari luar (asing). Sikap ini
sebenarnya bertentangan dengan sikap para tokoh seperti Bang Kari yang selalu wanti-wanti
agar siapapun yang mengamalkan bela diri untuk selalu memperhatikan “sikap 5” yaitu :
- Jangan cepat puas.
- Jangan suka pamer.
- Jangan merasa paling jago.
- Jangan suka mencari pujian dan
- Jangan menyakiti orang lain.
Dan perlu diingat, perkembangan pencak silat sebagai dasar dari tenaga dalam itu, baik pelaku
maupun keilmuannya dapat berkembang karena silaturahmi antar tokoh, mulai dari silat Pagar
Ruyung Padang yang dibawa H Kosim (Syahbandar), Bang Kari dan Bang Madi yang merangkum
silat Betawi dengan Kung Fu, juga Abah Khoir dengan Cimandenya, RH. Ibrahim dengan
Cikalongnya. Setiap perguruan tenaga dalam memberikan sumbangsih tersendiri bagi masyarakat
Indonesia. PERGURUAN WALI PITU menorehkan ketaqwaannya kepada Allah SWT sebagai
perguruan tua yang banyak mengilhami hampir sebagian besar perguruan di Indonesia, dan
cabang-cabang dari perguruan ini banyak berjasa bagi pengembangan tenaga dalam yang ilmiah
dan universal. Sin Lam Ba, Al-Hikmah, Silat Tauhid Indonesia berjasa dalam memberikan nafas
religius bagi pesertanya, dan aliran Nampon berjasa dalam memberikan semangat bagi para
pejuang di era kemerdekaan. Terlepas dari sisi positif dari aliran-aliran besar itu, pengembangan
aliran tenaga dalam yang kini masih memilih corak pengembangan bela diri dan kesaktian itu
justru mendapat kritik dari para pendahulunya. Pada tahun 1984 Alm. Sidik murid dari H Abdul
Rosyid saat berkunjung ke wilayah Pati utara dan menyaksikan cara betarung (peragaan) suatu
perguruan “pecahan” dari Budi Suci, menyayangkan kenapa sebagian besar dari siswa perguruan
tenaga dalam itu sudah meninggalkan teknik silat (fisik) sebagai basic tenaga dalam. Artinya,
saat diserang mereka cenderung diam dan hanya mengeraskan bagian dada/perut. Kebiasaan ini
menurutnya suatu saat akan menjadi bumerang saat harus menghadapi perkelahian diluar
gelanggang latihan. Karena saat latihan hanya dengan “diam” saja sudah mampu mementalkan
penyerang hingga memberikan kesan bahwa menggunakan tenaga dalam itu mudah sekali.
Mereka tidak sadar bahwa dalam perkelahian di luar gelanggang latihan itu, suasananya
berbeda. Dalam arena latihan yang dihadapi adalah teman sendiri yang sudah terlatih dalam
menciptakan emosi (amarah). Cara bela diri memanfaatkan tenaga dalam yang benar menurut
Alm. Sidik sudah dicontohkan oleh Nampon saat ditantang jawara dari Banten dan saat akan
dicoba kesaktiannya oleh KM Tamim. Yaitu, awalnya mengalah dan berupaya menghindar namun
ketika lawan masih memaksa menyerang, baru dilayani dengan jurus silat secara fisik,
menghindar, menangkis dan pada saat yang dianggap tepat memancing amarah dengan
tamparan ringan dan setelah penyerang emosi, baru menggunakan tenaga dalam. Pola
pembinaan bela diri yang tidak lengkap yang hanya fokus pada sisi batin saja, sering menjadi
bumerang bagi mereka yang sudah merasa memiliki tenaga dalam sehingga terlalu yakin bahwa
bagaimanapun bentuk serangannya, cukup dengan diam (saja) penyerang pasti mental. Dan
ketika mereka menghadapi bahaya yang sesungguhnya, ternyata menggunakan tenaga dalam
tidak semudah saat berlatih dengan teman seperguruannya. Fenomena pembinaan yang
sepotong-potong ini tidak lepas dari keterbatasan sebagian guru yang pada umumnya hanya
pernah “mampir” di perguruan tenaga dalam. Sidik mengakui banyak orang yang belajar di Budi
Suci hanya bermodal “jurus dasar” saja sudah banyak yang berani membuka perguruan baru.
Padahal dalam Budi Suci itu terdapat 3 tahapan jurus. Yaitu, Dasar Jurus – Jodoh Jurus dan
Kembang Jurus (ibingan). Karena tergesa-gesa ingin membuka aliran baru itu menyebabkan
siswa sering tidak siap disaat harus menggunakan tenaga dalamnya. Dan Yosis Siswoyo dari
Bandar Karima memberikan konsep bahwa keberhasilan memanfaatkan tenaga dalam ditentukan
dari prinsip “min-plus” yang dapat diartikan : Biarkan orang berniat jahat (marah), aku memilih
untuk tetap bertahan dan sabar. Karena itu pembinaan fisik, teknik bela diri fisik, teknik,
kelenturan, refleks dan mental bertarung perlu ditanamkan terlebih dahulu karena kegagalan
memanfaatkan tenaga dalam lebih disebabkan mental yang belum siap sehingga orang ingat
punya jurus tenaga dalam setelah perkelahian itu sudah usai. Berdasarkan pengamatan, tenaga
dalam berfungsi baik justru disaat pemiliknya “tidak sengaja” dan terpaksa harus bertahan dari
serangan orang yang berniat jahat. Dan tenaga dalam itu sering gagal justru disaat tenaga
dalam itu dipersiapkan sebelumnya untuk “berkelahi” dan akan lebih gagal total jika tenaga
dalam itu digunakan untuk mencari masalah. Tenaga dalam harus bersifat defensif atau
bertahan. Biarkan orang marah dan tetaplah bertahan dengan sabar dan tak perlu mengimbangi
amarah. Sebab jika pemilik tenaga dalam mengimbangi amarah, maka rumusnya menjadi “plus
ketemu plus” yang menyebabkan energi itu tidak berfungsi. Dan dalam hal ini Perguruan WALI
PITU menjabarkan konsep “min – plus” itu dengan sikap membiarkan lawan “Berniat” (bergerak/
amarah) dan tetap mempertahankan “Diam” (sabar, tenang). Memposisikan dir
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar